TRANSFORMASI INDONESIA. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kiblat Orang Kristen adalah Pribadi TUHAN YESUS KRISTUS....


Ritual Haji, awalnya memang menyerap dari Taurat. Namun, kita tahu Umat Islam mempunyai kebiasaannya sendiri. Tetapi, ritua seperti itu telah dilakukan generasi Israel ribuan tahun sebelumnya, umat Israel datang ke Bait Allah tiap-tiap tahun ke Yerusalem sebagai Kiblat/ tanah suci/ tanah perjanjian, kita ambil salah satu ayatnya :

* Imamat 23:34
LAI TB, Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi TUHAN tujuh hari lamanya.
King James Bible, Speak unto the children of Israel, saying, The fifteenth day of this seventh month shall be the feast of tabernacles for seven days unto the LORD.
Jewish Publication Society Tanakh, Speak unto the children of Israel, saying: On the fifteenth day of this seventh month is the feast of tabernacles for seven days unto the LORD.
Hebrew,
דַּבֵּר אֶל־בְּנֵי יִשְׂרָאֵל לֵאמֹר בַּחֲמִשָּׁה עָשָׂר יֹום לַחֹדֶשׁ הַשְּׁבִיעִי הַזֶּה חַג הַסֻּכֹּות שִׁבְעַת יָמִים לַיהֹוָה׃
Translit, DABER 'EL-BENEY YISRA'EL LE'MOR BAKHAMISYAH 'ASAR YOM LAKHODESY HASYEVI'I HAZEH KHAG HASUKOT SYIV'AT YAMIM LAYEHOVAH (dibaca: 'Adonay)

Catatan :
Kata Ibrani חג - KHAG, (hari raya/ perayaan/ festival) paralel dengan kata Arab "Hajj (الحجّ)", haji. Hal ini dapat dibaca dalam AlKitab al-Muqaddas (Alkitab berbahasa Arab). Misalnya istilah Ibrani syir ha-ma'a lot (nyanyian orang-orang yang naik ke kota suci Yerusalem untuk ber-KHAG (berhari-raya) diterjemahkan dalam bahasa Arab Nasid al-Hujaj (nyanyian orang-orang yang ber-hajji). Lihat Mazmur 120-146, Alkitab Al-Muqaddas ay Kitab al-'Ahd al-Quran wa al-'Ahd al-jadid (Beirut: Dar al-Kitab Al-Muqaddas fii al-Syariq al-Ausath, 1996, dalam Bambang Noorsena, Yesus Terang Dunia).


PERPINDAHAN KIBLAT FISIK:

Ibadah dengan datang kepada Kiblat itu dijalani oleh umat Israel di Yerusalem.
Ada suatu catatan sejarah dimana terjadi "pertikaian" antara orang Israel keturunan murni di Yehuda dan Samaria (orang campuran) di Kerajaan utara. Kemudian orang Samaria "memindahkan kiblat", mereka tidak beribadah di Yerusalem (Gunun/bukit Sion) tetapi ke Gunung Gerizim.

Pada era Muslim, nabi Muhammad juga "memindahkan" kiblat, dari Masjidil Aqsa (di Yerusalem) ke Masjidil Haram (di Mekkah), ini sah-sah saja, toh di masa lalu orang Samaria melakukan hal yang sama.


IBADAH KRISTEN : PERPINDAHAN KIBLAT ROHANIAH:

Dalam Alkitab kita ada catatan percakapan mengenai "Kiblat" antara Yesus Kristus dengan perempuan Samaria di pinggir sumur, mari kita kaji ayat-ayatnya :

* Yohanes 4:21-26
4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung (GERIZIM) ini dan bukan juga di Yerusalem (SION).
4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."
4:26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia ('ANI HU/ EGO EIMI (ucapan ilahi), yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Yesus mengajar perempuan itu tentang penyembahan yang benar (ayat 21-24). Lebih dahulu Yesus berkata soal menyembah bukanlah soal tempat (atau kiblat). Maka sia-sialah perdebatan orang Yahudi dan Samaria mengenai tempat penyembahan (Gunung Gerizim ataupun Bukit Sion/Yerusalem). Karena didalam penyembahan yang benar kepada Bapa tidak ada persoalan mengenai tempat dan syarat-syaratnya.

Yesus meneruskan dengan penjelasan bahwa menyembah itu harus dengan roh dan kebenaran, dalam hal ini Yesus Kristus membicarakan hal itu terlepas dari persoalan waktu dan tempat:

* Yohanes 4:23-24
4:23 LAI TB, Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
TR, αλλ ερχεται ωρα και νυν εστιν οτε οι αληθινοι προσκυνηται προσκυνησουσιν τω πατρι εν πνευματι και αληθεια και γαρ ο πατηρ τοιουτους ζητει τους προσκυνουντας αυτον
Translit. Interlinear, all {tetapi} erkhetai {akan datang} hôra {waktu} kai {dan} nun {sekarang} estin {adalah} hote {ketika} hoi alêthinoi {yang sejati} proskunêtai {penyembah-penyembah} proskunêsousin {akan menyembah} tô patri {Bapa} en {dalam} pneumati {roh} kai {dan} alêtheia {kebenaran} kai {dan} gar {sebab} ho patêr {Bapa} toioutous {seperti ini} zêtei {mencari} tous {(orang-orang yang)} proskunountas {menyembah} auton {Dia}

4:24 LAI TB, Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
TR, πνευμα ο θεος και τους προσκυνουντας αυτον εν πνευματι και αληθεια δει προσκυνειν
Translit. Interlinear, pneuma {Roh} ho {(itu)} theos {Allah} kai {dan} tous {(orang-orang yang)} proskunountas {menyembah} auton {Dia} en {dalam} pneumati {roh} kai {dan} alêtheia {kebenaran} dei {harus} proskunein {menyembah}[/color]

Ayat 23 : "Menyembah Dalam roh dan kebenaran"; dihubungkannya roh dan kebenaran memberi keterangan atas makna "The True Worshipers" (penyembah yang benar); Mereka ini adalah kelompok orang yang benar-benar berbakti, dan berbeda dengan orang-orang lain yang 'nampaknya' saja berbakti dengan melakukan 'tingkah laku agamawi' dan "simbol-simbol agamawi’.

Tekanan utama dalam Yohanes 4:23 ini adalah 'roh' sebagaimana nampak pada kalimat seanjutnya yaitu " Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian" Penyebab asasi mengapa ibadah/penyembahan yang benar itu harus rohaniah dan bukan jasmaniah/kasat-mata, hal tersebut dikarenakan Allah itu Roh.

Allah mencari penyembah-penyembah yang benar yang bersesuaian dengan sifat-Nya. Dalam ayat 24 lebih dijelaskan bahwa "Allah itu Roh", ini mengacu pada sifat asasi-Nya. Inilah dasar dan pola ibadah baru yang ditetapkan Tuhan Yesus Kristus, dimana penyembahan bukanlah berdasarkan 'tempat' atau 'simbol' atau 'upacara' atau 'kiblat' atau berdasarkan 'lokasi' (baca Yohanes 4:21-22) melainkan berdasarkan hakekatNya, yaitu Roh. Segala perlambangan agamawi yang sudah dikenal dalam Perjanjian Lama dimaknai baru dalam roh. Karena Allah itu Roh (Yohanes 4:24), maka penyembah-penyembahNya harus bersesuaian dengan Yang disembah. Amin.

Orang Samaria mempunyai Kiblat sendiri, mereka tidak beribadah di Yerusalem (Bukit Sion), tetapi di Gunung Ebal/ Gerizim, terhadap perbedaan Kiblat ini Yesus Kristus tidak mempermasalahkannya.

Untuk itu, saya-pun tidak mempermasalahkan. Sebagaimana pernah dilakukan orang Samaria, kemudian umat Islam juga "memindahkan" Kiblat ke Mekkah, "They can believe what they want to believe in". Itu namanya freedom fo faith.

Yang jelas Yohanes 4:20, tidak merujuk perpindahan kiblat secara fisik namun justru menyatakan bahwa Yesus menunjuk diri-Nya lah kiblat itu (Yohanes 4:23-26). Kita baca lagi dan perhatikan ayat 26 :

* Yohanes 4:23-26
4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."
4:26 LAI TB, Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."
Translit, legei autê ho iêsous egô eimi ho lalôn soi

Ucapan "egô eimi" disini bukan sembarang ucapan, tetapi suatu pernyataan keilahian. Menurut J.H. Bernard dan Dr. Morris, "EGÔ EIMI (Yunani)/ ANI HU (Ibrani) jelas merupakan gaya bahasa Allah ... Kekuatannya dapat langsung dinikmati dan dihargai oleh orang yang biasa dengan terjemahan LXX (Septuaginta) Perjanjian Lama". Injil Yohanes memberikan 7 serial perkataan "EGÔ EIMI/ 'ANI HU" yang dikuti dengan predikat ke-Allahan. Inilah membuat hal ini begitu penting dalam Injil Yohanes adalah bahwa kita menemukan penggunaan yang serupa dalam Perjanjian Lama. Di situ kita menemukan bahwa para penerjemah menggunakan cara bahasa yang tegas waktu mencatat kata-kata yang diucapkan oleh Allah.

UCAPAN YESUS "AKULAH DIA" / David M. Ball http://www.sarapanpagi.org/akulah-i-am-ani-hu-ego-eimi-vt2829.html#p16018

Yesus menyatakan diri sebagai YHVH...http://www.sarapanpagi.org/yesus-kristus-adalah-yhvh-vt41.html#p2668


Yesus menyatakan diriNya adalah Allah (Yohanes 4:26) dan maka dari itu Dia-lah kiblat itu, kiblat yang tidak diikat oleh tempat dan waktu. Saya pertegas lagi : Dia adalah Allah yang adalah Roh yang tidak terikat waktu dan tempat. Kiblat kita bisa hadir kapan saja dan ditemui dimana saja. 

Maka, jelas disini dalam Yohanes 4:20-26, Yesus tidak membicarakan perpindahan kiblat secara fisik dari Yerusalem ke tempat-tempat yang lain. Tetapi Yesus membicarakan sesuatu yang rohaniah, penyembahan di dalam roh dan kebenaran. Yang jelas bukan Kiblat/tempat secara fisik, tetapi YESUS KRISTUS-LAH KIBLAT ITU.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar