TRANSFORMASI INDONESIA. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

APAKAH QURAN TERJAGA?

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr. 9) 

APAKAH KEASLIAN QURAN TERJAGA?


BUKTI ARKEOLOGIS
MELAWAN QURAN
Sampai kiamat-pun Muslimin bersikeras bahwa Quran adalah kata-kata final Tuhan. Namun, mana bukti sejarahnya? Bukti manuskrip, dan arkeologis semuanya tidak berhasil membuktikan klaim-klaim itu. Dlm tulisan paling akhir (Isa Masih no.6, p8-9) kami menunjukkan kekurangan-kekurangan dlm manuskrip-manuskrip Quran. Disini kami menunjukkan bukti melawan Islam dari sumber-sumber dokumen non-Muslim dan arkeologi modern.

SUMBER-SUMBER YAHUDI
Qur’an menyiratkan bahwa Muhamad memutuskan hubungannya dgn Yahudi thn 624 AD, segera setelah Hijrah ke Mekah. Pada saat itu, Kiblat dipindahkan dari Yerusalem ke Mekah (Surah 2:144, 149-150). Namun, dalam sumber-sumber non-Muslim, Doktrin Iacobi dan Kronikel Armenia dr thn 660 AD, menunjukkan bahwa pd tahun 640, saat penaklukan Palestina, Arab dan Yahudi adalah sekutu. Muhamad mendirikan masyarakat Ishmaeli dan Yahudi berdasarkan tanah kelahiran mereka yg sama di tanah suci. Hubungan baik ini berlangsung sampai paling tidak 15 tahun setelah tgl Quran tsb.

MEKAH
Menurut Qur’an, Mekah merupakan kota yang pertama dan paling penting di dunia. Adam menempatkan batu hitan di Ka’bah asli, sementara Abraham dan Ishmael membangun kembali Ka’bah Mekah berabad-abad kemudian (Sura 2:125-127). Mekah dikatakan sbg pusat perdagangan sebelum jamannya Muhamad.
Namun tidak ada bukti-bukti arkeologisnya. Kota kuno besar macam itu tentulah disebut-sebut dlm sejarah kuno. Namun, sebutan paling dini ttg Mekah sbg sebuah kota ada di Continuato Byzantia Arabica, dokumen abad ke 8! Mekah jelas bukan rute perdagangan daratan yg alami – Mekah adalah lembah gersang dan orang harus belok sepanjang 100 mil utk dapat mencapainya.Setelah abad pertama, hanya ada perdagangan maritim Yunani-Romawi dgn India, yg diawasi pelabuhan Laut Merah Ethiopia, Adulis, dan bukan oleh Arab. Kalau Mekah bukan sebuah kota yg mapan, kecuali setleah jamannya Muhamad, maka ini membuat Quran sangat diragukan.

ARKEOLOGI
Qiblat
Menurut Qur’an, Qiblat diarahkan ke Mekah pd thn 624 AD, dua tahun setelah Hijrah (Sura 2:144, 149-50). Namun bukti-bukti arkeologis paling dini dari mesjid yg dibangun pada permulaan abad ke 8 menunjukkan bahwa kota suci mereka bukanlah Mekah, tetapi lebih dekat ke arah Yerusalem.
Qiblat mesjid pertama di Kufa, Iraq, dibangun th 670 AD, dan menunjuk ke BARAT ketimbang ke selatan, gambar-gambar arsitektur dari dua mesjid Umayyad (650-750 AD) di Iraq, menunjukkan bahwa Qiblat berorientasi jauh ke utara. Mesjid Wasit melenceng sampai 33 derajad, mesjid Baghdad sampai 30 derajad. Mesjid ‘Amr b. al ‘As didekat Cairo, juga menunjuk ke Kiblat terlalu jauh ke utara dan harus diperbaiki oleh sang gubernur.
Jacob dari Odessa, penulis dan pengelana Kristen, merupakan saksi mata yg menulis ttg Mesir sekitar 705 AD. Suratnya dlm British Museum menyebut ttg kaum ‘Mahgraye’ (istilah Yunani bagi Arab) di Mesir berdoa menghadap ke timur, menuju Ka’bah, dgn kata lain menuju Palestina, dan bukan Mekah.
Jadi bukti menunjuk kpd lokasi bukan di Mekah, tetapi di Arab Utara atau bahkan Yerusalem, sampai permulaan abad ke 8. Tidak mungkin Muslim pada abad permulaan Islam salah menghitung arah. Mereka pedagang dari gurun pasir dan tukang caravan yang mahir membaca arah bintang di langit utk menentukan arah perjalanan mereka. Bgmn lagi mereka melakukan ibadah haji, yang pada saat itu saja sudah diresmikan? Ada ketidakcocokan besar antara Qur’an dan arkeologi modern. Yang paling penting, Walid I, kalif th 705 – 715, menulis kesemua wilayah memerintahkan penghancuran dan pelebaran semua mesjid. Mungkinkah bahwa saat itu Kiblat baru dipindahkan ke Mekah?

DOME OF THE ROCK
Kemungkinan alasan mengapa mesjid-mesjid kuno menghadap Palestina bisa ditemukan di Yerusalem. Di pusat kota itu terletak the ‘Dome of the Rock’, bangunan yg didirikan ‘Abd al-Malik th 691 AD. Ini dianggap sbg tempat Islam paling suci nomor 3 setelah Mekah dan Medinah. Gedung ini nampaknya bukan ingin digunakan sbg mesjid, karena tidak adanya Qiblat dan bentuk oktagonalnya menunjukkan gedung itu digunakan agar orang dapat berkeliling memutarinya. Muslim percaya bahwa ini memperingati Isra Mi’raj, malam Muhammad naik ke surga dan berbicara dgn Allah dan Musa mengenai jumlah solat yg diwajibkan kpd pengikut.
Namun, tulisan-tulisan pada tembok gedung itu tidak menyebut apa-apa ttg Isra Mi’raj tetapi kutipan-kutipan Quran yg dimaksudkan khususnya bagi Kristen. Mungkin gedung ini dibangun sbg tempat suci Islam, sebelum Mekah diresmikan sbg tempat tersuci Islam.
Tradisi Muslim memang menunjukkan bahwa the Dome of the Rock dulu memang pusat religius Islam. Kalif Suleyman, yg berkuasa sampai th 717 AD, pergi ke Mekah utk bertanya ttg ibadah Haji. Ia tidak puas dgn jawaban yg didapatkan dan memilih utk mengikuti ‘Abd al-Malik, yg pergi ke the Dome of the Rock.
Mungkinkah kiblat mesjid-mesjid pertama dulu diarahkan kepada the Dome of the Rock dibawah perintah Walid I pada permulaan abad ke 8?
Alm Yehuda Nevo dari Universitas Yerusalem men-survey ukiran-ukiran Arab pada batu-batu yg tersebar di gurun Negev dan Syro-Jordania. Risetnya memberikan gambaran berguna atas sejarah Muhammad dari sumber-sumber non-Muslim kontemporer.
Dlm teks religius dari jaman Sufyani (661-684 AD) ada sebuah kepercayaan monotheistic TETAPI TIDAK ADA RUJUKAN KPD MUHAMAD! Namanya hanya muncul setelah 690 AD. Tulisan Muhammad Rasulullah tampil pertama kali dlm uang keping Arab-Sassania dari th 690 AD, di Damascus. Lebih penting lagi, ketiga unsur kepercayaan kpd Tauhid, Muhamad Rasulullah dan rasul Allah wa-’abduhu (sifat kemanusiaan Yesus) ditemukan dlm tulisan ‘Abd al-Malik dlm the Dome of the Rock, tertgl 691 AD. Sebelum masa itu, prinsip-prinsip kepercayaan Muslim tidak dapat dipastikan.
Jadi selama 60 tahun penuh setelah kematian Muhamad, kalimat syahadat Arab TIDAK MENCAKUP MUHAMAD. Tetapi sebuah prinsip kepercayaan monotheis yg mengembangkan konsep Judaeo-Kristen dlm gaya literature khusus. Saat syahadat dgn nama Muhammad diberlakukan selama periode Marwanid (setelah 684 AD) tiba-tiba bentuk deklarasi itulah yg tampil sbg satu-satunya bentuk dlm dokumen-dokumen formal. Jadi peningkatan status Muhammad sbg nabi universal hanya terjadi pada akhir abad ke 7, lama setelah kematiannya!

QURAN
Jelas Qur’an mengalami transformasi selama 100 tahun setelah kematiannya. Tulisan-tulisan yg dikenal sbg tulisan Quran pada keping-keping dan di the Dome of the Rock selama masa ‘Abd al-Malik dari 685 AD, BERBEDA dgn teks Quran sekarang. Qur’an tidak mungkin dikanonisasi selama masa hidup Muhamad, tetapi pasti mengalami proses evolusi. Rujukan paling dini kpd sebuah buku yg dinamakan Qur’an tidak datang dari Mekah melainkan di Arab Utara, bahkan Yerusalem, pada permulaan abad 8. Tidak mungkin Muslim pertama salah tebak arah Mekah, mereka mahir menggunakan bintang sbg penunjuk jalan. Bgm mungkin mereka bisa mengadakan ibadah haji yg sudah dikanonisasikan pada jaman itu?

Ada kepincangan besar antara Qur’an dan arkeologi modern. Artinya, sejarah islam runtuh di hadapan arkeologi modern.

Crucially, Walid I, who reigned as Caliph between 705 and 715, wrote to all the regions order’an maintains is at odds with historical data from the 7th-8th centuries. Specifically:
  • The Jews retained a relationship with the Arabs until at least AD 640, not 624 AD
  • Mecca was not the first and most important city in the world; it was unknown until the end of the 7th century and was not even on the international trade route
  • The Qibla (direction of prayer) was not fixed towards Mecca until the 8th century but to an area further north, possibly Jerusalem
  • The Dome of the Rock in Jerusalem was possibly the original sanctuary
  • Muhammad was not known as the Seal of the Prophets until the late 7th century; the creeds from Muhammad’s time contain a monotheistic religion but no Muhammadan formulae
  • The earliest we even hear of the Qur’an is not until the mid-8th century
  • The earliest qur’anic writings on coins and on the Dome of the Rock do not coincide with the current qur’anic text This suggests the Qur’an we now read is not the same as that which was supposedly collated and canonized in 650 AD by Uthman. The earliest qur’anic manuscripts in our possession today (dating from 790 AD) would appear to reflect an evolution in the qur’anic text. This challenges the Muslim contention that the Qur’an contains the original and exact revelation of Allah, as recited by Muhammad and hence strikes at the very heart of the Islamic faith.
Dimasa lalu Qur’an dilindungi dgn semacam embargo – tetapi kini Muslim tidak lagi dapat berkelit dari bukti-bukti yg semakin menumpuk yg justru melemahkan Quran.
_______________
APAKAH Al-Qur’an Tetap Sama Dari Jaman Nabi Muhammad Sampai Sekarang?
Pakar-pakar QURAN MEMBUAT KEBOHONGAN TENTANG quran yang tidak pernah berubah....

PADA JAMAN NABI HIDUP, AL-QUR’AN TIDAKLAH SAMA

Kutipan dari:
Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an
DR Subhi As Shalih
Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001, halaman 119
Diceritakan tentang percekcokan Umar bin Khatab dengan Hisyam bin Hakim sbb :
Pada suatu hari semasa Rasulullah masih hidup, aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca SURAH AL FURQAAN. Aku mendengarkan baik-baik bacaannya. Tapi tiba-tiba ia membaca BEBERAPA HURUF YANG TIDAK PERNAH DIBACAKAN RASULULLAH kepadaku sehingga hampir saja ia kuserang ketika ia sedang shalat. Akhirnya kutunggu ia sampai mengucapkan salam. Setelah itu kutarik bajunya. Aku bertanya kepadanya : “Siapakah yang membacakan surah itu kepadamu?”. IA MENJAWAB, “RASULULLAH YANG MEMBACAKANNYA KEPADAKU”. Kukatakan, “Engkau berdusta! Demi Allah, RASULULLAH TIDAK MEMBACAKAN SURAH ITU KEPADAKU SEPERTI KUDENGAR DARIMU.” Hisyam bin Hakim lalu kuseret menghadap rasulullah dan aku bertanya, “Ya Rasulullah, aku mendengar orang ini membaca surah Al-Furqaan dengan huruf-huruf yang tidak engkau bacakan kepadaku ketika engkau membacakan surah Al-Furqaan kepadaku.!” Rasulullah menjawab, “Hai Umar, lepaskan dia. Hai Hisyam, bacalah.” Hisyam kemudian membaca surah Al-Furqaan sebagaimana yang kudengar tadi. Kemudian rasulullah menanggapinya, “Demikian surah itu diturunkan.”. Beliau melanjutkan, “Qur’an itu diturunkan dalam tujuh huruf, karena itu BACALAH MANA YANG MUDAH DARI AL-QUR’AN.”
(Sahih Bukhari VI, hal 185)
Jadi dari hadis diatas terlihat RASULULLAH MENDIKTEKAN SURAH AL-FURQAAN YANG BERBEDA kepada Umar dan Hisyam.
Ini jelas bahwa HAFALAN RASULULLAH TIDAK TEPAT.
Muslim biasanya berargumen bahwa perbedaan hanya sekedar perbedaan dialek. Inipun tidak tepat karena Umar dan Hisyam keduanya adalah ORANG QURAISH dan keduanya konon adalah mereka yang MENDENGAR LANGSUNG rasulullah mendiktekan ayat-ayat Al-Qur’an dalam dialek QURAISH.
Sumber : Muqadimah Al-Qur’an
Bab Satu, halaman 25
Tugas panitia adalah membukukan al-Qur’an, yakni menyalin dari lembaran-lembaran yang tersebut menjadi buku. Dalam pelaksanaan tugas ini Usman menasihatkan supaya :
  1. mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al-Qur’an
  2. kalau ada pertikaian antar mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah dituliskan dalam menurut DIALEK SUKU QUIRAISY, SEBAB AL-QUR’AN DITURUNKAN MENURUT DIALEK MEREKA
HAFALAN RASULULLAH BERBEDA-BEDA SAAT MENDIKTEKAN KEPADA si A atau si B.

SETELAH NABI MENINGGAL, AL-QUR’AN TIDAKLAH SAMA

Ini sangat jelas dari alasan Usman membuat satu standar Al-Qur’an yaitu karena ADANYA PERBEDAAN AL-QUR’AN ANTARA PENGIKUT IBN MAS’UD (PRAJURIT IRAK) DAN UBAY BIN KAAB (PRAJURIT SYRIA) sebagaimana dilaporkan oleh Huzaifah bin Yaman
Sumber : Muqadimah Al-Qur’an Bab Satu, halaman 25
Beliau ini ikut dalam pertempuran menaklukan Armenia dan Azerbaijan, maka selama dalam perjalanan dia pernah mendengar PERTIKAIAN KAUM MUSLIMIN TENTANG BACAAN BEBERAPA AYAT AL-QUR’AN.
Muslim akan berargumen perbedaan hanya dari segi dialek. Namun jelas perbedaan antara mushaf Ibn Mas’ud dan Ubay bin Kaab BUKAN PERBEDAAN DIALEK MELAINKAN PERBEDAAN ISI AL-QUR’AN.
Menurut laporan Suyuthi : Suyuthi, al Itqan fi Ulum al Quran, vol 1 halaman 224, 226, 270-73
IBN MAS’UD MENOLAK MEMASUKKAN SURAH 1, 113 DAN 114, KARENA SURA-SURA TERSEBUT ADALAH DOA-DOA DAN MANTERA UNTUK MENGUSIR SETAN. Hal ini diperkuat dengan laporan dari al Razi, al Tabari dan Ibn Hajar
Sementara mushaf Ubay bin Kaab, mushaf Ibn Abbas, Abu Musa al Ashari dan Ali bin Abi Thalib justru ada penambahan 2 SURAH YANG UNIKNYA SEKARANG JUSTRU TIDAK ADA DI AL-QUR’AN EDISI KAIRO 1924.
Menurut laporan Suyuthi:
Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 hal 227, vol 3 hal 85
Dua surah yang bernama “AL-KHAL” DAN “AL-HAFD” TELAH DITULIS DALAM MUSHAF UBAYY BIN KA’B DAN MUSHAF IBN ABBAS, SESUNGGUHNYA ALI AS MENGAJAR KEDUA SURAH TERSEBUT KEPADA ABDULLAH AL-GHAFIQI, UMAR B. KHATTTAB DAN ABU MUSA AL-ASY’ARI juga membacanya.

Banyak saksi sejarah dan penghafal Qur’an yang tewas dalam perang Yemama:
Zuhri reports that when slaughter befell the Muslims in the Yemama it was Abu Bakr who feared that many of the qarra' would perish. (p. 120, Ahmad b. `Ali b. Muhammad al `Asqalani, ibn Hajar, "Fath al Bari", 13 vols, Cairo, 1939/1348, vol. 9, p. 12)

Jumlah seluruh qarra’ yang tewas ada 700 orang :
It is said that upward of 700 Companions fell in the Yemama. Sufyan reports that when Salim was slain `Umar hastened to Abu Bakr. (p. 120, Ahmad b. `Ali b. Muhammad al `Asqalani, ibn Hajar, "Fath al Bari", 13 vols, Cairo, 1939/1348, vol. 9, p. 9)

Setelah tewasnya para saksi dan hafidz yang hafal ayat-ayat Qur’an dalam perang Yamama, beberapa informasi menjadi hilang dan tak lengkap lagi. Ada bukti-bukti tertulis bahwa Quran sudah tak lengkap lagi.

It is reported from Ismail ibn Ibrahim from Ayyub from Naafi from Ibn Umar who said: "Let none of you say 'I have acquired the whole of the Qur'an'. How does he know what all of it is when much of the Qur'an has disappeared? Rather let him say 'I have acquired what has survived.'" (as-Suyuti, Al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p.524).
Abdullah ibn Umar, dalam zaman permulaan Islam, amat jelas berkata =>
Ia dilaporkan dari Ismail ibn Ibrahim dari Ayyub dari Naafi dari Ibn Umar yang berkata: "Biar tiada di antara kamu yang berkata 'saya sudah memperolehi seluruh Qur'an'. Bagaimana dia mengetahui itu adalah kesemuanya sedangkan banyak bahagian Qur'an yang telah hilang? Lebih baik biar dia berkata 'saya sudah memperolehi apa yang ditinggalkan.' "(as-Suyuti, al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p. 524) .
Bahkan, Abu Musa al-Ashari, salah satu sahabat dekat Muhammad mengatakan kepada para pembaca (pengaji) di Basra, bahwa dirinya sudah tak ingat lagi isi surat Bara’at kecuali beberapa barisnya saja :

We used to recite a surah which resembled in length and severity to (Surah) Bara'at. I have, however, forgotten it with the exception of this which I remember out of it: "If there were two valleys full of riches, for the son of Adam, he would long for a third valley, and nothing would fill the stomach of the son of Adam but dust". ( Sahih Muslim, Vol. 2, p.501).
JELAS SEKALI LEWAT PERNYATAAN BELIAU DINYATAKAN BAHWA…Qur'an yang ada pada hari ini tidak lengkap….
Terdapat bukti selanjutnya mengenai kehilangan seluruh surah daripada Qur'an hari ini. Abu Musa al-Ash'ari, seorang daripada pihak yang berpengetahuan mengenai teks Qur'an dan juga seorang sahabat Muhammad, telah dilaporkan berkata kepada penghafal-penghafal di Basra::
Kami pada satu masa ketika pernah mengucapkan satu surah yang menyerupai dalam kepanjangan dan ketegasannya kepada (Surah) Bara'at. Walaubagaimanapun, saya telah lupakannya dengan kecualian bahagian ini: "jika ada dua buah lembah penuh dengan kekayaan, untuk keturunan Adam, dia akan inginkan sebuah lembah ketiga, dan tiada apa yang akan memenuhi perut keturunan Adam tetapi debu ". (Sahih Muslim, Vol. 2, p. 501).
Sekali lagi, Abu Musa juga mengatakan bahwa dirinya TELAH LUPA isi sebuah teks yang telah hilang dan ia hanya ingat beberapa isinya saja. Saya ambilkan cuplikan dari sumber sekunder (bukan Quran atau hadis) tulisan as-Suyuti dalam bukunya “Al Itqan” :

We used to recite a surah similar to one of the Musabbihaat, and I no longer remember it, but this much I have indeed preserved: 'O you who truly believe, why do you preach that which you do not practise?' (and) 'that is inscribed on your necks as a witness and you will be examined about it on the Day of Resurrection'. (as-Suyuti, Al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p.526).
BENARKAH ADA SATU KOLEKSI TUNGGAL QUR’AN PRA KODIFIKASI? (ADANYA PERBEDAAN-PERBEDAAN DI ANTARA KOLEKSI PARA SAHABAT)

Tidak. Keempat sahabat Muhammad justru membuat Qur’an koleksinya sendiri. Mereka yaitu Mas’ud, Salim, Ubay, dan Mu’adh :

Bukhari: vol. 6, hadith 521, pp. 487-488; book 61
Narrated Masruq:
... I heard the Prophet saying, "Take (learn) the Qur'an from four (men): `Abdullah bin Masud, Salim, Mu'adh and Ubai bin Ka'b."
Sumber literatur Islam menyatakan orang2 terpilih ini yang menyusun Qur’an mereka sendiri.
Hadis Sahih Bukhari, volume 5, buku 58, nomer 150.
Aku mendengar sang Nabi berkata, “Belajarlah pelafalan Qur’an dari empat orang ini: (1) Abdullah Ibn Mas’ud, (2) Salim (yang terbunuh di perang tahun 633M), dan dia adalah budak Abu Hudhaifa yang dimerdekakan, (3) Ubayy b. Ka’ab, dan (4) Muadh bin Jabal.”
Masing-masing teks ternyata memiliki banyak perbedaan, sehingga pertentangan segera muncul di antara Muslim sendiri. Perhatikan ketika Abu Darda mengkritik teks surat 92 Lail milik Mas’ud yang dibacakan Alqama. Ia bahkan bersumpah demi Allah untuk tidak akan mengikutinya :

Bukhari: vol. 6, hadith 468, p. 441-442; book 60
Narrated Ibrahim:
The companions of 'Abdullah (bin Mas'ud) came to Abi Darda', (and before they arrived at his home), he looked for them and found them. Then he asked them,: "Who among you can recite (Qur'an) as 'Abdullah recites it?" They replied, "All of us." He asked, "Who among you knows it by heart?" They pointed at 'Alqama. Then he asked Alqama. "How did you hear 'Abdullah bin Mas'ud reciting Surat Al-Lail (The Night)?" Alqama recited:
'By the male and the female.' Abu Ad-Darda said,
"I testify that I heard me Prophet reciting it likewise, but these people want me to recite it:--

'And by Him Who created male and female.' But by Allah, I will not follow them."

Perbedaan di atas tampaknya sepele (rekan-rekan Muslim bisa saja berpendapat toh artinya sama), tetapi bagaimanapun juga telah menimbulkan pertentangan di kalangan Muslim sendiri. Ini sangat fundamental bagi sejumlah Muslim tertentu seperti Abu Darda, sehingga ia menolaknya secara frontal.

Dalam perkembangan selanjutnya, koleksi milik Ubay dan Mas’ud lah yang paling berpengaruh. Mengapa? Karena dalam proses kodifikasi, UBAI ADALAH TOKOH YANG MERASA DIRINYA PALING BENAR, SEHINGGA BERSIKERAS MENOLAK KOLEKSINYA YANG DIUBAH:

Bukhari: vol. 6, hadith 527, p. 489; book 61
Narrated Ibn Abbas:
Umar said, `Ubai (Ubayy) was the best of us in the recitation (of the Qur'an) yet we leave some of what he recites'. Ubai says, `I have taken it from the mouth of Allah's Apostle and will not leave for anything whatever'.
ALASAN KUAT UNTUK MEMPERTAHANKAN KEOTENTIKAN ALQURAN SEOLAH-OLAH OTENTIK/ASLI ADALAH Al-Naskh Wa al-Mansukh: Ajaran Pembatalan (Pemansuhan).UMAR MEMASUKKAN INI AGAR SEOLAH ALQURAN SEKARANG OTENTIK…HUKUM YANG HILANG ITU DIANGGAP DI NASAKH/MANSUKH….(=QS. Al-Baqarah: 106)
Al-Naskh Wa al-Mansukh: Ajaran Pembatalan (Pemansuhan)
Ini adalah satu doktrin yang ditolak oleh banyak orang Muslim karena ia mencerminkan pandangan yang tidak memihak terhadap sangkaan kesempurnaan teks Qur'an, tetapi ia pada umumnya di terima oleh kaum Muslim yang konservatif dan ulama-ulama ortodoks seperti Desai.Doktrin ini sesuai dengan alquran (QS. Al-Baqarah: 106)
Pendapat Umar tentang Naskh dan Mansukh, amat di ganggu oleh pengetahuan Ubayy ibn Ka'b yang baik mengenai Qur'an, apabila di hadapi dengan teks-teks ayng diketahui oleh teman-teman Muhammad tetapi tidak oleh Khalifa, mendakwa bahawa mereka telah dimansukhkan.
Cerita Ibn Abbas: Umar berkata "Ubayy adalah di antara kita yang terbaik dalam ucapan (Qur'an) tetapi kita tinggalkan sesetengah apa yang dia ucapkan". Ubayy berkata, "saya telah mengambilnya daripada mulut mubaligh Allah (SAW) dan tidak akan meninggalkannya untuk apa jua pun". Tetapi Allah berkata: Apa saja ayat yang kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya.(2:106). (Sahih al-Bukhari, Vol. 6, p. 489) .
Secara nyata Ubayy amat yakin bahawa dia tidak patut mengabaikan apa yang dia pelajari dengan terus daripada Muhammad sendiri dan tindakan mereka yang tidak mengenali apa yang diucapkan oleh dia adalah untuk menganggap bahwa ada ayat-ayat yang telah dimansukhkan oleh Allah.
Qur’an versi lain disusun oleh Ubayy b. Ka’ab. Diapun adalah sahabat karib Muhammad dan merupakan sekretaris (juru tulis) Muhammad. Ubayy mahir melafalkan banyak ayat2 Qur’an, dan dia belajar pelafalan ini langsung dari Muhammad. Para ilmuwan Islam menemukan bahwa Qur’an versi Ubayy berbeda dengan Qur’an “resmi” karena punya Ubayy terdapat dua Sura lain (berjudul Sura Al-Khal dan Sura Al-Afd). Karena Muhammad secara pribadi mengajar Ubayy tentang Qur’an, maka mengapa yaaa Qur’an “resmi” saat ini tidak mengandung dua Sura tersebut?
Ubayy wafat saat kepemimpinan Kalifah Umar, dan saat itu Qur’an yang “resmi” belum disusun oleh Uthman. Karena itulah, Ubayy tidak usah menyaksikan Qur’an versi miliknya dibakar atas perintah Uthman. Karena Ubayy menyusun Qur’annya sendiri dan belajar langsung dari mulut nabi Muhammad, tentunya dia akan setuju dengan sikap Mas’ud yang menolak menyerahkan Qur’an versinya untuk dibakar, bukan?
Sumber literatur Islam menyatakan orang2 terpilih ini yang menyusun Qur’an mereka sendiri.
Hadis Sahih Bukhari, volume 5, buku 58, nomer 150.
Aku mendengar sang Nabi berkata, “Belajarlah pelafalan Qur’an dari empat orang ini: (1) Abdullah Ibn Mas’ud, (2) Salim (yang terbunuh di perang tahun 633M), dan dia adalah budak Abu Hudhaifa yang dimerdekakan, (3) Ubayy b. Ka’ab, dan (4) Muadh bin Jabal.”
Jadi ada beberapa orang khusus yang dipilih Muhammad karena pengetahuan mereka akan Qur’an dan orang2 ini lalu menyusun Qur’an versi mereka sendiri. Qur’an2 ini beredar luas dan digunakan di kalangan Muslim. Hal inilah yang menyebabkan tentara2 Muslim saling bersengketa dan menuduh satu sama lain bid’ah.
Mari mulai dengan Abdullah Ibn Mas’ud yang diminta untuk membakar versi Qur’an-nya sendiri.
“Bagaimana mungkin kau memerintahkan dirku untuk melafalkan pembacaan Zaid, sedangkan aku melafalkannya dari mulut sang Nabi sendiri akan tujuhpuluh Sura?” “Apakah aku, “ tanya Abdullah, “harus melupakan apa yang kuketahui dari bibir sang Nabi sendiri?”("K. al Masahif" oleh Ibn abi Dawood, 824-897 AD, hal. 12, 14).
Jelas sekali Abdullah Ibn Mas’ud => MENOLAK QURAN VERSI BELIAU UNTUK DIMUSNAHKAN…
Apakah Abdullah Ibn Mas’ud menganggap Qur’an yang beredar saat ini merupakan Qur’an murni, padahal dia menolak membakar Qur’an versi miliknya sendiri? Karena Mas’ud tidak sudi membiarkan Qur’an versi miliknya dibakar, maka sudah jelas Mas’ud tidak menganggap Qur’an milik Uthman itu asli. Hal yang penting untuk dipertanyakan, “Mengapa Mas’ud tidak mau menyerahkan dan membakar Qur’an miliknya?”
Mas’ud adalah sahabat karib dan pelayan pribadi Muhammad. Nabi Muhammad mengajarkan Qur’an pada Mas’ud secara pribadi. Karena eratnya hubungan pribadi dengan Muhammad, maka Mas’ud jelas yakin bahwa dia punya kualifikasi meyakinkan untuk menyusun Qur’an versinya sendiri.( Hadis Sahih Bukhari, volume 5, buku 58, nomer 150=> Abdullah Ibn Mas’ud nama beliau tercantum dalam hadis..yang mana seharusnya umat islam mempelajari alquran versi beliau….)
Mas’ud lalu pindah ke Kufa, Irak, di mana dia menyelesaikan menyusun Qur’an versinya sendiri, yang dikenal dengan mushaf Kufan. Qur’an unik ini selesai disusunnya beberapa tahun setelah Qur’an asli milik Hafsah disusun (tahun 634 M). Qur’an versi Mas’ud tidak memiliki Sura 1, 113, dan 114 yang terdapat dalam Qur’an “resmi” saat ini. Apakah Qur’an itu benar2 asli seperti yang dipercayai Muslim sekarang?
Qur’an “resmi” jaman sekarang datang dari Zaid ibn Thabit, yang merupakan juru tulis Muhammad yang paling muda. Zaid, karena usia mudanya, masih hidup ketika orang2 terdekat Muhammad lainnya sudah mati.Akan tetapi, akhirnya malah Qur’an versi Zaid yang dipilih Uthman sebagai Qur’an yang “resmi.”
Muslim2 lain yang sangat dekat hubungannya dengan Muhammad menjadi sangat marah ketika Uthman bersikeras hanya ada satu jenis Qur’an saja yang boleh digunakan. Sumber2 Islam menunjukkan bahwakeaslian Qur’an sejak jaman Muhammad tidak jelas lagi. Jika tidak terdapat versi2 Qur’an yang berbeda, maka tentunya tidak akan ada perintah pembakaran.
Kaum Muslim percaya bahwa terdapat tujuh versi Qur’an, tapi hanya Qur’an versi Uthman saja yang benar. Jadi para Muslim tidak mempermasalahkan pembakaran Qur’an2 versi lain. Akan tetapi, dibutuhkan “iman buta”untuk percaya dan menerima pandangan seperti ini.
Jika Muhammad betul2 mampu secara konsisten meramalkan masa depan, maka tentunya Qur’an memang berasal dari Tuhan. Akan tetapi kenyataannya tidak begitu. Peristiwa politik pembakaran Qur’an versi lain yang dilakukan para pemimpin awal Islam 
membuktikan bahwa Qur’an berasal dari Jibril gadungan.
AYAT RAJAM PEZINAH MENGHILANG...

Umar bin Khatthab Radhiyallahu 'anhu dalam khutbahnya :

وَ ِإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ ثَابِتٌ فِيْ كِتَابِ اللهِ عَلَى مَنْ زَنَا إِذَا أَحْصَنَ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَل أَوْ الإِعْتِرَاف.

"Sungguh rajam adalah BENAR dan ADA DALAM KITAB ALLAH atas orang yang BERZINA apabila telah pernah menikah (al-Muhshaan), bila tegak padanya persaksian atau kehamilan atau pengakuan sendiri"
AYAT RAJAM
Umar juga mengingat keberadaan ayat rajam sebagai hukuman bagi pezinah.
Sumber : • Malik b. Anas, Muwatta, vol 2 p 824 • Ahmad b. Hanbal, vol 1 p 47, 55 • Muhasibi, Fahm al Quran an wa manih , p 398, 455 • Bukhari, vol 4 p 305 • Muslim, Sahih, vol 2 p 1317 • Ibn Maja, Sunan, vol 2 p 853 • Tirmidhi, Sunan, vol 2 p 442-3 • Abu Dawud, Sunan, vol 4 p 145 • Ibn Qutayba, Tawil mukhtalif al hadith, p 313 • Ibn Salama, al Nasikh wal Mansukh, p 22 • Bayhaqi, al Sunan al Kubra, vol 8 p 211, 213
Dikutip dari : Bukhari: vol. 8, hadis 817, halaman 539-540; buku 82
…….. , dan diantara yang dinyatakan Allah adalah ayat-ayat tentang Rajam, dan kami telah menghafalkan dan mengerti ayat-ayat tersebut. Rasul Allah melakukan hukuman ini begitu juga kami. Saya khawatir bahwa setelah waktu lama berlalu, seseorang akan berkata, Demi Allah, kami tidak menemukan ayat-ayat Rajam dalam buku Allah”. …
Tetapi Umar tidak dapat meyakinkan sahabat-sahabatnya untuk memasukkan ayat rajam kedalam qur’an sebab tidak ada yang menyokong pendapatnya sehingga persyaratan minimal kesaksian 2 orang tidak terpenuhi.

“Dan bagi laki-laki tua yang berzinah dan wanita tua yang berzinah, rajam mereka atas kesenangan yang telah mereka perbuat”, Umar bin Khattab berkata “orang-orang akan mengatakan bahwa Umar telah menambahkan sesuatu kepada kitab Allah, jika aku menulis ayat rajam” (True Guidance, p. 61- citing Al-Suyuti’s al-Itqan fii ulum al-Quran on nasikh wa mansukh; Darwaza’s al-Quran Al-Majid)

Kita harus menyatakan bahwa ayat rajam merupakan pendapat Umar pribadi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya sesuai kaidah ilmiah yang telah disepakati seperti adanya teks yang mendukung adanya ayat tersebut dan teks tersebut harus ditulis dihadapan Rasulullah disaksikan oleh dua orang. (fathul bahri,Ibnu Hajar)

Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid: `Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah (HR. Abu Dawud)

Itulah yang menyebabkan kesaksian Umar tertolak sebab begitu Umar ditanyakan argumennya ayat tersebut memang ada dia tidak bisa membuktikannya (Muhammad ibn Muhammad Abû Syahbah, al-Madkhal li Dirâsat al-Qur`ân al-Karîm, (Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1992), Cet. I, hlm. 273)
Sumber : • Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 p 206
Namun, beberapa sahabat nabi kemudian mengingat keberadaan ayat rajam tersebut termasuk Aisha
Sumber : • Ahmad b. Hanbal, vol 5 p 183 (mengutip Zayd b. Thabit dan Said al-As Abd al Razzaq • Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 3 p 82, 86 • Suyuthi, al Durr al Manthur, vol 5 p 180 (mengutip Ubayy b. Ka'b dan Ikrima)
Menurut laporan Suyuthi dala Al-Itqan, ayat rajam ini dilaporkan ada dalam mushaf Ubay bin Ka’b dan ditempatkan di sura 33. Bunyi ayat ini adalah :
الشيخ والشيخة إذا زينا فارجموهما البتة نكالاً من الله والله عزيز حكيم
Apabila seorang laki-laki dewasa dan seorang perempuan dewasa berzina, maka rajamlah keduanya,itulah kepastian hukum dari Tuhan, dan Tuhan maha kuasa lagi bijaksana.
الشيخ والشيخة إذا زينا فارجموهما البتة نكالاً من الله والله عزيز حكيم
Artinya : “Orang tua renta baik laki-laki maupun perempuan apabila keduanya berzina maka rajamlah keduanya sebagai pembalasan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr : 9)

TETAPI MUHAMAD RAGU-RAGU MEMASUKKAN HUKUM INI DALAM ALQURAN…SPT YANG TERTULIS PADA HADITS SAHIH AL BUKHARI DIBAWAH INI….KRN BANGSA YAHUDI TAHU BAHWA KITABNYA INGIN DISALIN OLEH MUHAMMAD…MAKANYA IA TIDAK MEMBERI KETERANGAN YANG JELAS TENTANG PERTANYAAN MUHAMMAD TENTANG HUKUM RAJAM PADA PEZINAH…..
Muhammad pertama kali menyaksikan hukuman rajam ini saat perajaman dilaksanakan terhadap wanita Yahudi yang berzinah. [101] Dia tercengang melihat hukuman rajam ini dan pergi ke sekolah Yahudi untuk menanyakan hal ini. Abdullah bin Salam, Yahudi yang lalu jadi Muslim, menemani Muhammad. Orang² Yahudi tidak mau menjelaskan hukum rajam itu padanya, karena mereka tahu tujuan Muhammad adalah mengutip semua rincian hukum ini dalam Qur'annya dan lalu mengakuinya sebagai wahyu dari malaikat. Karena itulah, para Yahudi menyatakan bahwa mereka mengikat para pezinah, menjemurnya di bawah terik matahari, dan memukuli mereka. Mereka berkata tidak ada hukum rajam dalam Taurat.
[101] Sahih Al Bukhari, tafsir Qur'an, perkataan nomer 4556.
JD ATAS KETIDAK TAHUAN MUHAMMAD TERHADAP ADA TIDAKNYA RAJAM THD PEZINAH DITAURAT…MAKA HUKUM TSB DIKATAKAN DINASAKH…PADAHAL UMAR SENDIRI BERKATA ADA…..TJD TUMPANG TINDIH HUKUM DALAM HAL INI…..
AYAT YANG DIHADITS ITU BUKAN HUKUM RAJAM KEPADA PEZINAH…TETAPI HALAL HUKUMNYA MENUMPAHKAN DARAH PEZINAH BOS…..
لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal ditumpahkan darah seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah saja dan ia bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah, kecuali salah satu dari tiga golongan, yaitu seseorang yang sudah/pernah menikah melakukan perbuatan zina, karena jiwa dibalas jiwa (seseorang membunuh orang lain maka balasannya ia diqishash/dibunuh juga), dan orang yang meninggalkan agamanya, berpisah dengan jamaahnya kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari no. 6878 dan Muslim no. 4351)

Di dalam Qur'an pada hari ini, hukuman yang diatur untuk pezina adalah seratus kali dera (Surah 24:2), tidak perbedaan yang dibuat apakah mereka sudah menikah atau tidak. Umar, demikian, telah menyatakan dengan jelas bahwa Allah pada mulanya telah mewahyukan satu hukuman Rajam (dilempar batu sampai mati) untuk pezina. Dari teks bahasa Arab asli di dalam Shahih Bukhari yang di petik seperti pada, ia jelas di nampak bahwa Umar sangat yakin bahwa SALINAN ini pada mulanya adalah satu dari bagian teks Qur'an. Kata-kata yang penting adalah wa anzala alayhil-kitaaba fakaana mimmaa anzalallaahu aayaatur-Rajm, yang berarti secara nyata dan terus, "dan dia menurunkan Kitab (viz. Qur'an) kepadanya, dan sebagian dari apa yang Allah turunkan (ketika itu) adalah rangkap ayat rajam ".
Di dalam catatan lain tentang kejadian ini kita menemukan Umar menambahkan: "sesungguhnya dalam buku Tuhan, dirajam adalah satu hukuman ke atas lelaki dan perempuan menikah yang membuat penzinaan, jika ada bukti atau penghamilan itu jelas atau pengakuan telah dilakukan" (Ibn Ishaq, Sirat Rasulullah , p. 684). Kedua TERCATAT tradisi di dalam Shahih Bukhari dan Sirat Ibn Ishaq menyatakan Umar menyebut satu SALIN ayat lain yang kehilangan yang pada satu ketika adalah sebagian dari kitabullah (iaitu. Qur'an) yang pernah di baca oleh sahabat-sahabat awal Muhammad, yaitu "wahai orang-orang! Jangan menuntut sebagai anak-anak kelahiran selain ayah kamu, karena ia adalah murtad (disbelief) pada bagian kamu untuk menuntut sebagai anak-anak kelahiran selain ayah kamu yang benar "(Shahih al-Bukhari, Vol. 8 , p. 540).
Di dalam kedua-dua cerita ada sesuatu tambahan di mana Umar memperingatkan terhadap setiap percuba untuk menafikan apa yang dia telah katakan, memperingatkan bahwa siapa yang tidak menerima apa yang dia akan dedahkan tidak diizinkan untuk mendustakannya (yaitu, untuk mengatakan yang dia tidak dedahkannya) . Dia memang sangat serius mengenai apa yang dia lakukan dan telah mendugai satu reaksi bermusuhan dari kaum Muslim generasi kemudian yang tidak sadar akan kehilangan ayat yang, dengan nyatanya, bertentangan dengan perintah dalam Surat 24:2, atau Muhammad pada hakikatnya telah merajam pezina-pezina sampai mati. Muhammad pernah melakukannya berdasarkan, dengan jelasnya, dari hadits yang berikut:
Ibn Shihab melaporkan bahawa seorang lelaki pada masa Rasul Allah (saw) mengakui kepada perbuataan penzinaan dan dia mengakuinya empat kali. Rasul Allah (saw) kemudian berpesan dan dia dirajam" (Muwatta imam Malik, p.350).
Ada banyak contoh tercatat lainnya yang serupa di mana Muhammad memerintahkan pezina-pezina dirajam sampai mati. Apakah sebenarnya "Ayat Rajam" itu? Ini disebut dalam tradisi yang berikut:

Zirr ibn Hubaish melaporkan: "Ubayy ibn Ka'b berkata kepada saya, 'Apakah titik Suratul-Ahzab?' Saya berkata, 'tujuhpuluh, atau, tujuh puluh-tiga rangkap baris. Dia berkata,' Namun demikian, pada satu ketika ia sepanjang Suratul-Baqarah dan didalamnya kita pernah mengucapkan Ayat Rajam '. Saya berkata,' Dan apakahnya ayat rajam '? Dia menjawab, 'penzina-penzina di antara pria yang sudah menikah (ash-shaikh) dan wanita yang sudah menikah (ash-shaikhah), rajamkan mereka sebagai hukuman dari Allah yang patut dicontoh, dan Allah maha Perkasa dan Bijaksana. "' (As-Suyuti, al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p. 524).
Sedangkan Qur'an tidak membuat perbedaan dalam Surah 24:2 di antara kondisi pezina-pezina yang telah menikah atau yang belum menikah (ia cuma memanggil mereka az-zaaniyatu waz-zaanii "wanita dan pria yang berzina"), tradisi pada hanya menyatakan bahwa cuma pria dan perempuan yang sudah menikah dan ditangkap dalam perzinahan harus dirajam (makna kata yang sebenarnya adalah "tua" atau pria dan perempuan "dewasa", yang berarti orang yang sudah menikah).

Ini telah mengakibatkan banyak diskusi di dalam tulisan Muslim tentang makna rangkap ayat itu. Pengertian yang umum di antara sarjana Muslim generasi awal adalah suatu bagian Qur'an yang dibatalkan sama sekali oleh Allah juga dijadikan ia dilupakan semua sekali (tergantung pada kekuatan Surah 2:106: nansakh... Aw unsihaa naati "batalkan... Atau jadikan lupa kepadanya ", kedau-dua diambil sebagai satu entitas. Jadi ketika satu rangkap ayat ditemukan tersimpan di dalam memori seorang sahabat ketika terkemuka seperti Umar, ia di anggap, meskipun teks memang telah dikeluarkan dari Qur'an, namun demikian pengajaran dan resep didalamnya adalah mengikat sebagai bagian dari sunnah nabi Islam. Dilemma umumnya diselesaikan dengan dugaan bahwa perintah Qur'an untuk menguat-kuasakan seratus jalur ke perzinaan orang yang belum menikah, sedangkan orang yang sudah menikah tetapi melakukan perzinahan dirajam menurut sunnah. Banyak solusi lain tentang isu ini telah YG dan hal ini telah diperlakukan secara menyeluruh dalam beberapa gubahan sastra bersejarah Islam.

Kita di sini bukan berurusan dengan teologi atau implikasi ajaran pembatalan, tetapi cuma dengan penyusunan sebenarnya teks Qur'an saja. Pertanyaan di sini adalah, apakah rangkap ayat ini pada satu ketika sebagian dari teks Qur'an atau tidak dan, jika ia adalah, kenapa sekarang dibuang dari halaman? Dari tradisi-tradisi yang di petik, kita dapat lihat bahwa ia di anggap oleh Umar sebagai bagian dari teks Qur'an yang asli, tetapi di dalam tradisi yang lain pula kita baca Umar meraguinya:


Zaid bin Tsabit dan Sa'id ibn al-As sedang menuliskan mushaf (naskah tertulis Qur'an) dan saat mereka tiba ke rangkapayat ini Zaid berkata, "saya mendengar utusan Allah (saw) berkata: 'pria dan perempuan dewasa yang berzina, rajamkan mereka sebagai satu hukuman "'. Umar berkata, "Bila ia diumumkan saya pergi ke nabi (saw) dan berkata, 'Apakah saya menulisnya?', Tetapi dia tampak keberatan." (As-Suyuti, Al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p. 528).

Hadits ini, namun, tidak mengira isnadnya (rantainya aliran), memiliki perbedaan yang nyata dalam isinya (matnnya). Ia meletakkanUmar dengan Zaid dan Sa'id ibn al-As pada waktu ketika Qur'an disalin oleh kedua orang itu dan, seperti yang diketahui ini terjadi di bawah perintah Utsman jauh lama setelah kematian Umar. Mustahil untuk Umar berbincang dengan mereka. Tidak kira apa jua pun, kebanyakan rekor hadits lain dengan nyata menunjukkan bahwa Umar tidak ragu-ragu bahwa rangkap ayat Rajam awalnya adalah bagian dari teks Qur'an dan sebab inilah dia begitu serius untuk menyimpannya.

Ia sering-kali ditegaskan bahwa tercatat dalam hadits sesekali menunjukkan awal keberadaan rangkap ayat Rajam kepada seorang saja yaitu Umar, oleh demikian membuatnya tergantung pada Kabar al-wahid, laporan seorang saksi saja, dan oleh itu sulit dipercaya. Ketenaran seorang saksi itu, namun, tidak bisa dipungkiri dengan begitu ringkas. Dia adalah sebanding dengan Umar ibn al-Khattab, seorang dari sahabat-sahabat awal Muhammad yang terkenal, yang melaporkan keberadaan rangkap ayat yang dia klaim di terima secara langsung dari Muhammad sendiri dan, ketika laporan semacam diberikan pada masa pemerintahannya sebagai Khalifah seluruh masyarakat Muslim, ia tidak bisa diabaikan atau dianggap dengan ringan.

ABU DARDA MENOLAK BACAAN ALQURAN YANG ADA SEKARANG….

            
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قَدِمَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ فَطَلَبَهُمْ فَوَجَدَهُمْ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَقْرَأُ عَلَى قِرَاءَةِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُلُّنَا قَالَ فَأَيُّكُمْ أَحْفَظُ فَأَشَارُوا إِلَى عَلْقَمَةَ قَالَ كَيْفَ سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى } قَالَ عَلْقَمَةُ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى قَالَ أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ هَكَذَا وَهَؤُلَاءِ يُرِيدُونِي عَلَى أَنْ أَقْرَأَ { وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى } وَاللَّهِ لَا أُتَابِعُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim yang berkata sahabat-sahabat ‘Abdullah datang menemui Abu Darda’. Maka ia [Abu Darda’] mencari mereka dan menemui mereka. Ia berkata kepada mereka “siapakah diantara kalian yang membaca dengan bacaan ‘Abdullah?”. [salah seorang ] berkata “kami semua”. Ia berkata “lalau siapa diantara kalian yang paling baik bacaannya?” maka mereka pun menunjuk Alqamah. Abu Darda’ bertanya “bagaimana kamu mendengarnya membaca ayat Wallaili idzaa yaghsyaa”. Alqamah berkata “wadzdzajari wal untsaa”. Abu Darda’ berkata “demi Allah aku telah mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] membacanya seperti ini, akan tetapi mereka menginginkan agar aku membacanya “wama khalaqa dzakara wal untsaa”. Demi Allah, aku tidak akan mengikuti mereka [Shahih Bukhari 6/170 no 4944]

              

             حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ دَخَلْتُ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ عَبْدِ اللَّهِ الشَّأْمَ فَسَمِعَ بِنَا أَبُو الدَّرْدَاءِ فَأَتَانَا فَقَالَ أَفِيكُمْ مَنْ يَقْرَأُ فَقُلْنَا نَعَمْ قَالَ فَأَيُّكُمْ أَقْرَأُ فَأَشَارُوا إِلَيَّ فَقَالَ اقْرَأْ فَقَرَأْتُ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى } وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى قَالَ أَنْتَ سَمِعْتَهَا مِنْ فِي صَاحِبِكَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ وَأَنَا سَمِعْتُهَا مِنْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَؤُلَاءِ يَأْبَوْنَ عَلَيْنَا

Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin Uqbah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Ibrahim dari Alqamah yang berkata aku termasuk dalam kelompok sahabat Abdullah yang pergi ke Syam. Abu Darda’ mendengar kami dan mendatangi kami, ia berkata “adakah diantara kalian yang bisa membaca”. Kami berkata “ya”. Abu Darda’ berkata “siapa diantara kalian yang paling bagus bacaannya?”. Maka mereka menunjuk kepadaku. Ia berkata “bacalah” maka aku membaca “wallaili idzaa yaghsyaa wannahaari idzaa tajallaa wadzdzakari wal untsaa”. Ia berkata “apakah engkau mendengarnya langsung dari bibir sahabatmu [Abdullah]”. Aku berkata “ya”. Abu Darda’ berkata “dan aku mendengarnya langsung dari bibir Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi orang-orang itu mengingkarinya” [Shahih Bukhari 6/170 no 4943]

Ayat Al Qur’an yang dipermasalahkan oleh Abu Darda’ di atas adalah surah Al Lail ayat 1-3. Abu Darda’ membaca ayat tersebut

             وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى

Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang dan laki-laki dan perempuan [QS Al Lail :1-3]

Sedangkan didalam Al Qur’an [yang dapat anda lihat], bacaan Al Lail ayat 1 sampai 3 adalah sebagai berikut

             والليل إذا يغشى والنهار إذا تجلى وما خلق الذكر والأنثى

Demi malam apabila menutupi, dan siang apabila terang benderang dan penciptaan laki-laki dan perempuan [QS Al Lail :1-3]


Jadi jelas, setelah Muhammad SAW meninggal, mushaf-mushaf sahabat berbeda satu dengan lainnya.

Standarisasi USMAN dengan membakar semua MUSSAF yang ada selain yang dipegang oleh dirinya...


pd jaman kekhalifahan Usman bin Affan, dia memerintahkan mushaff-mushaf Quran lain, SELAIN YG DIA MILIKI
untuk dibakar. Hal ini krn ada berbagai perbedaan diantara mushaf2 tsb.

Tujuannya utk keseragaman dan menghindari pertentangan antara pemilik mushaf (plus pengikut2nya).

Mushaf2 tsb berbeda dalam text dan susunan.
Pertanyaan besarnya adalah: JIKA MEMANG AL-QURAN ITU WAHYU dari tuhan, yg katanya maha tahu dan maha esa
kenapa ada berbagai perbedaan?

Kedua, apa hak si Usman utk menyatakan bhw mushaf yg ada di tangannya sbg mushaf YANG PALING BENAR?
Apakah dia tuhan? apakah dia merasa dirinya paling tahu dibanding para sahabat lainnya?
Apakah dia merasa dia sdh membaca dan membandingkan mushaf miliknya dgn milik orang lain?

Ketiga, berani benar Usman menyuruh membakar kitab Auloh..apakah dia tidak takut di azab?

Menurut sebagian ahli, mushaf terlengkap justru yg ada di tangan Zaid bin Tsabit, salah seorang sekretaris rasullulah SAW.
Mushaf ini ikut d dibakar oleh kalifah Usman bin Affan.

SETELAH DISTANDARISASI USMAN, AL-QUR’AN MASIH BERBEDA-BEDA

Mushaf yang distandarisasi oleh Usman ditulis dalam bahasa Arab yang masih sangat sederhana, dimana :
  1. Tidak ada tanda baca
  2. Tidak ada indikasi huruf hidup
  3. Tidak ada pembeda konsonan yang bersimbol sama (15 konsonan bisa dibaca menjadi 28 konsonan yang berbeda)
Karenanya tulisan mushaf Usman tersebut bisa dibaca dengan berbagai macam cara yang berbeda-beda. Tergantung penambahan huruf hidupnya dan penambahan titik diakritis terhadap konsonannya. Akibatnya timbullah bermacam-macam variasi bacaan, maka lagi-lagi harus dilakukan standarisasi pasca Usman :
Dikutip dari Luthfi A dari Islamlib:
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=447
Merenungkan Sejarah Alquran
Untuk mengatasi VARIAN-VARIAN BACAAN YANG SEMAKIN LIAR, pada tahun 322 H (944 M), Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. SETELAH MEMBANDING-BANDINGKAN SEMUA MUSHAF YANG ADA DI TANGANNYA, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni :
  1. Nafi (Madinah)
  2. Ibn Kathir (Mekah)
  3. Ibn Amir (Syam)
  4. Abu Amr (Bashrah)
  5. Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah).
Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.”
Adanya perbedaan tulisan Al-Qur’an ini dilaporkan juga oleh seorang ulama yaitu ibn al-Nadim di tahun 988 M.
Sumber : Fihrist, Ibn al-Nadim, halaman 79
Dalam buku Fihrist, Ibn Al-Nadim menuliskan daftar buku-buku kuno yang membahas tentang perbedaan antar manuskrip qur’an kuno sbb :
Buku Tentang Perbedaan Manuskrip (Qur’an)
  • Perbedaan Antara Manuskrip Penduduk Madina, Kufa dan Basrah menurut al Kisai
  • Kalaf, Buku Tentang Perbedaan Manuskrip
  • Perbedaan antara Penduduk Kufa, Basra dan Siria tentang Manuskrip, karya al Farra
  • Perbedaan Antar Manuskrip, karya al Sijistani
  • Al Mada’ini tentang perbedaan antar manuskrip dan pengumpulan al Qur’an
  • Perbedaan Manuskrip antara Penduduk Syria, Hijaz dan Iraq, karya Ibn Amir al Yashubi
  • Buku karya Muhammad ibn ‘Abd Al-Rahman al-Isbahani tentang perbedaan manuskrip
Fakta dimana penambahan huruf hidup dan titik diakritis berbeda-beda antar kota MEMATAHKAN ARGUMEN BAHWA AL,QUR’AN TELAH DIHAFALKAN DENGAN SEMPURNA. Bahkan setelah dibantu dengan tulisan dasarnya, hafalan masing-masing kota ternyata berbeda-beda.

PENULISAN ULANG DI KAIRO 1923/1924

Upaya terakhir untuk menstandarisasi Al-Qur’an dilakukan di Kairo Mesir ditahun 1923/1924. Satu catatan yang unik adalah mushaf Kairo 1924 ini TIDAK DISUSUN DARI NASKAH KUNO YANG MANAPUN, melainkan DIKLAIM mendasarkan pada murni “HAFALAN”.
Sumber :
The writing of the Quran and the timing of the mathematical miracle
www.submission.org/miracle/writing.html
Hingga ditahun 1918 ketika pakar-pakar muslim, berkumpul di Kairo, Mesir dan memutuskan untuk MENULISKAN EDISI STANDARD AL-QUR’AN UNTUK MENGHINDARKAN SEMUA KESALAHAN TULISAN DALAM EDISI AL-QUR’AN YANG SAAT ITU BEREDAR diseluruh dunia dan untuk menstandarkan penomoran surah dan ayat-ayat alQur’an. Di tahun 1924 mereka menerbitkan edisi Al-Qur’an yang kemudian menjadi standar edisi diseluruh dunia. MEREKA SEPENUHNYA MENDASARKAN PADA TRADISI LISAN AL-QUR’AN UNTUK MENGOREKSI SEMUA PERBEDAAN TULISAN DAN PENOMORAN DARI AL-QUR’AN YANG BERBEDA-BEDA.
Ini sangat serius karena menjadikan seluruh TULISAN Al-Qur’an sebelum 1923/1924 adalah SALAH. Salah satu contohnya adalah :

The Extant Samarkand Codex at Tashkent

Many Muslims scholars believe that the Samarkand Codex preserved at the Tashkent Library is the one compiled by ‘Uthman (rta). A close examinatikon of the text of this mushaf has shown that it cannot be – since IT IS DIFFERENT FROM THE CODEX WE HAVE IN OUR HANDS TODAY.
Banyak pakar muslim mempercayai bahwa kodek Samarkand yang disimpan di perpustakaan Tashkent adalah mushaf yang dikumpulkan oleh Usman. Pemeriksaan cermat terhadap teks mushaf ini membuktikan bahwa mushaf ini bukan mushaf asli Usman karena MUSHAF INI BERBEDA DENGAN KODEKS YANG KITA MULIKI SAAT INI.
Jadi klaim muslim bahwa Al-Qur’an selalu sama tidaklah berdasar. Keseragaman teks dan isi Al-Qur’an baru dicapai setelah tahun 1924 dengan diterbitkannya KARANGAN AL-QUR’AN YANG BARU OLEH ULAMA-ULAMA MUSLIM. HASIL KARYA TAHUN 1924 INILAH YANG KEMUDIAN DIKLAIM SAMA DENGAN YANG DIBACA OLEH NABI MUHAMMAD SAW.
___________
Ada beberapa CODEX yang melemahkan CODEX TTSMAN yang dianut umat ISLAM...
______________________

>> MANUSKRIP KUNO

Ada cukup banyak manuskrip Al-Qur'an kuno baik dalam bentuk fragmen
atau mushaf. Namun catatan sejarah tidaklah jelas tentang bagaimana
nasib dari mushaf Usman berikut copy yang dibuatnya. Umumnya pakar
AL-Qur'an dewasa ini berpendapat bahwa mushaf Usman berikut copy
yang dia buat juga telah musnah.

1. Menurut DR. Subhi As Shalim

Sumber :
Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur'an
DR. Subhi as Shalih
Pustaka Firdaus, April 2001, hal 101

Dimanakah mushaf salinan Usman saat ini?. Sampai sekarang pertanyaan
seperti itu belum dapat dijawab secara memadai. Dekorasi dan gambar-
gambar yang memisahkan satu surah dari surah lain atau yang menandai
setiap sepersepuluh juz menunjukkan bahwa mushaf pustaka kuno yang
dewasa ini berada di didalam perpustakaan nasional di Kairo bukanlah
mushaf salinan Usman mengingat bahwa salinan Usman tidak ada hal-hal
semacam itu.

2. Menurut Taufik Adnan Amal

Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an
Taufik Adnan Amal
FKBA, Agustus 2001, halaman 205 – 206

Terdapat sebuah manuskrip Al-Qur'an yang disimpan di masjid al
Husain di Kairo. Mushaf ini dinisbatkan kepada Usman dan ditulis
dengan tulisan Kufi kuno. Tetapi bisa dikemukakan bahwa naskah
tersebut merupakan salinan dari mushaf Usman (Ahmad Adil Kamal, Ulum
Al-Qur'an, Kairo, 1974 hal. 56). Semisal dengannya adalah manuskrip
yang tersimpan di Tashkent.

Sejumlah kesimpang siuran tentang mushaf-mushaf utsmani ini pada
gilirannya mengantarkan sejumlah sarjana muslim pada keyakinan bahwa
naskah-naskah tersebut telah hilang tanpa bekas. Manuskrip-manuskrip
kuno yang ada dewasa ini hanya dipandang sebagai salinan sempurna
dari mushaf-mushaf usmani.

Sejalan dengannya, penelitian-penelitian tentang naskah kuno Al-
Qur'an mengungkapkan bahwa manuskrip-manuskrip Al-Qur'an tertua –
baik dalam bentuk lengkap atau hanya sebagian saja – yang ada dewasa
ini adalah berasal dari abad ke 2 H.

3 Menurut Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah

Sumber :
Studi Ulumul Qur'an – Telaah Atas Mushaf Ustmani
Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, terj. Drs. Taufiqurrahman M.Ag.
Pustaka Setia, 2003, halaman 33

Penulis kitab Manahil al-Irfan berkata, "Kami tidak memiliki dalil
atau petunjuk yang kuat mengenai keberadaan Mushaf Usmani sekarang,
terutama dalil yang menunjukkan tempatnya... . Adapun peninggalan
mushaf-mushaf yang tersimpan di khazanah-khazanah kitab dan museum-
museum di Mesir yang menurut satu pendapat adalah mushaf Ustmani,
kami sangat meragukan kebenarannya karena didalamnya terdapat
lukisan-lukisan atau gambar-gambar yang diletakkan sebagai ciri yang
membatasi antar surat-surat. ... Padahal sebagaimana diketahui,
mushaf Ustmani tidak memiliki semua itu, bahkan tidak memiliki titik
dan syakal sekalipun."

4. Menurut situs Understanding Islam

Begitu pula dengan mansukrip yang ada di Tashkent , manuskrip ini
tidak dapat dikatakan mushaf Usman karena mengandung perbedaan
dengan Al-Qur'an yang sekarang digunakan.

Sumber :
http://www.understanding-islam.com/related/history.asp

Many Muslims scholars believe that the Samarkand Codex preserved at
the Tashkent Library is the one compiled by Uthman (rta). A close
examinatikon of the text of this mushaf has shown that it cannot be –
since it is different from the codex we have in our hands today.

Banyak pakar-pakar muslim percaya bahwa kodex Samarkand yang
disimpan di Perpustakaan Tashkent adalah mushaf yang dibuat oleh
Usman. Pemeriksaan teks yang cermat terhadap mushaf ini menunjukkan
bahwa mushaf ini TIDAK MUNGKIN MUSHAF USMAN KARENA BERBEDA DENGAN
KODEX YANG KITA MILIKI SEKARANG INI.

5. Menurut John Gilchrist

Sumber :
Jam' Al-Qur'an
John Gilchrist, halaman 153

Salinan Al-Qur'an tertua yang ada hingga saat ini bertarikh tidak
lebih awal dari 100 tahun setelah Muhammad SAW meninggal

Kesimpulan didasarkan pada tulisan yang digunakan dimana pada 2
manuskrip yang dianggap tertua yaitu Samarkand dan Topkapi ternyata
ditulis dengan huruf Kufic, huruf yang digunakan dikota Kufa di
Irak.

Kota Kufa sendiri baru didirikan pada tahun 638 oleh khalifah Umar.
Baru menjadi kota yang penting saat dijadikan ibu kota kekhalifahan
Ali bin Abi Thalib di tahun 656 M – 661 M.

Dalam periode dinasti Umawiyah (661 M – 749 M), kota ini tetap
menjadi kota utama. Setelah dimulainya kekuasaan dinasti Abbasiyah
(749 M), kota Kufa menjadi ibu kota administrasi selama beberapa
tahun.


>> VARIASI BACAAN

Banyak hadis melaporkan adanya sahabat-sahabat nabi menuliskan Al-
Qur'an mereka masing-masing. (Itqan, Suyuthi 62). Daftar dituliskan
oleh Abi Dawuud.

Diantara mushaf-mushaf pra Usman, terdapat juga variasi-variasi
bacaan.

1. Ibn Mas'ud

Diantara yang paling terkenal adalah Ibn Mas'ud, yang mengklaim
telah menghafal lebih dari 70 sura langsung dari Rasulullah.

Namun dalam mushafnya tidaklah terdapat sura 1, sura 113 dan sura
114. (Fihrist, I, hal 53 – 57).

Dari mushaf Ibn Masud, dilaporkan ada sekitar 1700 perbedaan dengan
mushaf yang sekarang digunakan. ("Materials for the history of the
text of the Quran" by A. Jeffry,1937)

2. Ubay bin Kaab

Sementara mushaf Ubay bin Kab yang adalah sekertaris rasulullah
selama di Medina justru mengandung 2 sura tambahan dan ayat-ayat
lainnya ("Itqan I" by Suyuti, p.65; "Masahif" by Ibn Abi Dawud,
pages 180-181) yaitu Al-Khal dan Al-Hafd.

Contoh lain adalah QS 33 : 6 yang berbunyi :

"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari
diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu
mereka. ... .",
dalam mushaf Ubay terdapat tambahan kalimat :
"dan rasulullah adalah ayah bagi mereka" ("The Holy
Quran" by A. Yusuf Ali, 1975, note 3674)

Contoh lain adalah ayat-ayat rajam
Menurut Suyuthi, ayat rajam ini dilaporkan ada dalam mushaf Ubay bin
Ka'b dan ditempatkan di sura 33.

Bunyi ayat ini adalah :
Apabila seorang laki-laki dewasa dan seorang perempuan dewasa
berzina, maka rajamlah keduanya,itulah kepastian hukum dari
Tuhan, dan Tuhan Maha Kuasa lagi bijaksana

3. Abu Musa

Begitu pula mushaf Abu Musa juga terdapat 2 sura tambahan seperti
mushaf Ubay bin Kaab yaitu al-Khal dan al Hafd.

Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an
Taufik Adnan Amal
FKBA, 2001, halaman 181

Berbeda dari mushaf Ubay dan Ibn Mas'ud, tidak ada riwayat yang
menuturkan tentang susunan surat didalam mushafnya, selain riwayat
bahwa 2 surat ekstra yang ada dalam mushaf Ubay [yakni surat Al-Khal
dan surat Al Hafd] terdapat dalam mushafnya

4. Ibn Abbas :

Begitu pula mushaf Ibn Abbas juga terdapat 2 sura tambahan seperti
mushaf Ubay bin Kaab yaitu al-Khal dan al Hafd.

Sumber :
Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an
Taufik Adnan Amal
FKBA, 2001, halaman 183

Salah satu karakteristik mushaf Ibn Abbas adalah eksisnya dua surat
ekstra [surat Al-Khal dan Surat Al-Hafd] didalamnya, sebagaimana
yang ada dalam mushaf Ubay dan Abu Musa.

Setelah distandarisasi oleh Usman, ternyata masih juga terdapat
banyak variasi bacaan.

Menurut Muhammad Hamidullah dalam Kata Pengantar untuk Al-Qur'an
terjemahan Perancis (hal. XXXIII), perbedaan itu dapat dikategorikan
menjadi 4 golongan :

1. Perbedaan karena kesalahan saat menyalin teks. Ini dapat
diverifikasi dengan membandingkan dengan copy lainnya
2. Perbedaan karena memasukkan catatan kaki kedalam Al-Qur'an
3. Perbedaan karena rasulullah memang mengijinkan pembacaan Al-
Qur'an dengan dialek yang berbeda-beda
4. Perbedaan karena mushaf Usman disusun tanpa huruf hidup dan
tanpa titik diakritis pembeda konsonan yang memiliki simbol
sama (dalam tulisan Arab hanya mengenal 15 huruf mati yang
melambangkan 28 cara pembacaan)

Kebanyakan variasi bacaan tersebut menurut Muhammad Hamidullah hanya
memiliki perbedaan arti yang kecil.

Hanya beberapa yang menimbulkan perbedaan besar, misalkan untuk QS
5:63 tercatat ada 19 alternatif bacaan yang pernah ada, 14 bacaan
karena perbedaan saat menambahkan huruf hidup, 5 karena ada
penambahan 1 atau 2 konsonan.

Quran yang ada sekaran bukanlah QURAN MUSSAF USMAN...karena para pakar berkata MUSSAF USMAN telah MUSNAH...

Quran yang digunakan banyak umat ISLAM sekarang adalah...

Al-Qur'an yang sekarang digunakan adalah mendasarkan dari versi
standard Mesir tahun 1923.Pada 1918 ketika pakar-pakar muslim, berkumpul di Kairo,Mesir dan memutuskan untuk MENULISKAN EDISI STANDARD AL-QUR'AN UNTUK MENGHINDARKAN SEMUA KESALAHAN TULISAN DALAM EDISI AL-QUR'AN YANG SAAT ITU BEREDAR diseluruh dunia dan untuk menstandarkan penomoran
surah dan ayat-ayat Al-Qur'an.

Di tahun 1924 mereka menerbitkan edisi Al-Qur'an yang kemudian menjadi standar edisi diseluruh dunia.MEREKA SEPENUHNYA MENDASARKAN PADA TRADISI LISAN AL-QUR'AN UNTUK MENGOREKSI SEMUA PERBEDAAN TULISAN DAN PENOMORAN DARI AL-QUR'AN YANG BERBEDA-BEDA.

Al-Qur'an edisi Mesir 1923/24 inilah yang kemudian disebarluaskan
dengan bantuan dari pemerintah Arab Saudi. Tujuannya adalah untuk
secara perlahan mengeliminir Al-Qur'an yang berbeda yang saat itu
masih digunakan oleh umat muslim.

Sumber :
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=447

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiar yang luar biasa,
karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah
kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa.

Terbukti kemudian, AL-QUR'AN EDISI MESIR ITU MERUPAKAN VERSI AL-
QUR'AN YANG PALING BANYAK BEREDAR DAN DIGUNAKAN OLEH KAUM MUSLIM.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah SAUDI ARABIA MENCETAK
RATUSAN RIBU KOPI AL-QUR'AN SEJAK TAHUN 1970-AN merupakan bagian
dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya PENYUKSESAN
STANDARISASI AL-QUR'AN.

Tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Al-Qur'an hanya dengan satu
edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-
diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

------
Justru keotentikan Al-Qur’an yang sekarang inilah yang sangat meragukan karena adalah HASIL PENULISAN ULANG OLEH ULAMA MESIR DITAHUN 1923/24.

Al-Qur’an yang sekarang digunakan adalah mendasarkan dari versi standard Mesir tahun 1923 mendasarkan pada versi an Ashim.
Satu catatan yang unik adalah mushaf ini tidak disusun dari naskah kuno yang manapun, melainkan mendasarkan pada murni “HAFALAN”.


Sumber :
The writing of the Quran and the timing of the mathematical miracle
http://www.submission.org/miracle/writing.html

[i]It was not until the year 1918 when the Muslim scholars, gathered in Cairo, Egypt, and decided to write a standardized edition of the Quran that avoids all the obvious scribes' errors in different editions of the Quran floating in the world and to standardize the numbering f the suras and verses of the Quran. In 1924, they produced the edition of the Quran that later became the standard edition around the world. They depended mainly on the oral transmission of the Quran to correct all the contradiction seen in the different Rasm (Orthography) and numbering of different Qurans

-----------

Hingga ditahun 1918 ketika pakar-pakar muslim, berkumpul di Kairo, Mesir dan memutuskan untuk MENULISKAN EDISI STANDARD AL-QUR’AN UNTUK MENGHINDARKAN SEMUA KESALAHAN TULISAN DALAM EDISI AL-QUR’AN YANG SAAT ITU BEREDAR diseluruh dunia dan untuk menstandarkan penomoran surah dan ayat-ayat alQ-ru’an. Di tahun 1924 mereka menerbitkan edisi Al-Qur’an yang kemudian menjadi standar edisi diseluruh dunia.

MEREKA SEPENUHNYA MENDASARKAN PADA TRADISI LISAN AL-QUR’AN UNTUK MENGOREKSI SEMUA PERBEDAAN TULISAN DAN PENOMORAN DARI AL-QUR’AN YANG BERBEDA-BEDA.


Al-Qur’an edisi Mesir 1923/24 inilah yang kemudian disebarluaskan dengan bantuan dari pemerintah Arab Saudi. Tujuannya adalah untuk secara perlahan mengeliminir Al-Qur’an yang berbeda yang saat itu masih digunakan oleh umat muslim.


Sumber :
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=447

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, ALQURAN EDISI MESIR ITU MERUPAKAN VERSI ALQURAN YANG PALING BANYAK BEREDAR DAN DIGUNAKAN OLEH KAUM MUSLIM. …….. Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah SAUDI ARABIA MENCETAK RATUSAN RIBU KOPI ALQURAN SEJAK TAHUN 1970-AN merupakan bagian dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya PENYUKSESAN STANDARISASI ALQUR’AN. ……….. tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

-------------

QURAN EDISI MESIR YANG DISUSUN OLEH PAKAR-PAKAR MUSLIM INILAH YANG DIGUNAKAN RUJUKAN QURAN YANG BEREDAR SEKARANG DAN DIBERI NAMA SEOLAH ADALAH MUSSAF USMAN....PADAHAL MUSSAF TERSEBUT TELAH MUSNAH....
________________
Apakah tidak ada yang bisa membuat SURAT spt Quran?
Kasih Mulamula7:29am May 21

COMBAT KIT KMM
(Kasihmulamula Menjawab Muslim)

MENJAWAB KLAIM MUSLIM

TIDAK ADA SATUPUN MANUSIA YANG DAPAT MEMBUAT AYAT SEPERTI QURAN

Jawab

Ah, masa sehh

Coba lihat ini

http://www.islam-watch.org/Assets/Sura-Al-Nurain.jpg

Dan silahkan pilih sura yang lebih indah dari Quran disini

http://www.suralikeit.com/

QURAN CUMA BUATAN MANUSIA DAN KARANGAN MANUSIA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

6 komentar:

bukakartu mengatakan...

Al Quran adalah Kitab petunjuk kehidupan, sabda, firman dari Tuhan. Namun sebagian manusia tak mempercayainya. Maka setidaknya, untuk membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran Al-Qur'an, Alloh subhanahu wa ta’aala azza wa jalla tak segan-segan menyindir dan menantang dengan jelas semua makhluk, untuk:


1. Menyusun yang semacam Al Quran secara keseluruhan:
Al Quran Surat Ath Thuur ayat 34 (52:34): Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar

2. Menyusun sepuluh surat saja semacam Al Quran:
Al Quran Surat Huud ayat 13 (11:13):
Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu". Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Alloh, jika kamu memang orang-orang yang benar"


3. Menyusun satu surat saja semacam Al Quran:
Al Quran Surat Yunuus ayat 38 (10:38):
Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Alloh, jika kamu orang yang benar."


4. Menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan salah satu surat dari Al Quran:
Al Quran Surat Al Baqarah ayat 23 (2:23):
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah [*] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Alloh, jika kamu orang-orang yang benar.


[*] Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad sholollohu‘alaihi wasallam.

bukakartu mengatakan...

ASPEK PENDUKUNG KEOTENTIKAN AL QURAN


Dalam hal ini, ada banyak sekali aspek kuat yang mendukung keotentikan Al Quran al Karim, dan berikut ini adalah sekelumit paparan bukti dari berbagai aspek itu, yaitu:


I_ Aspek keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya
Abdurrazaq Nafwal dalam buku atau kitab ”Al-I’jaz Al-Adabiy li Al Quran Al Karim” yang terdiri dari 3 jilid (terlepas dari berbagai pendapat pro dan kontra atau skeptis tentang isinya dan kemungkinan ketidaksempurnaan manusia penulisnya) mengemukakan berbagai contoh tentang keseimbangan ini. Ringkasannya adalah:


1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya (lawan katanya):
”Al Hayah” (hidup) dan ”Al Mawt” (mati), masing-masing sebanyak 145 kali
”Al Naf’” (manfaat) dan ”Al Madharrah” (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali
”Al Har” (panas) dan ”Al Bard” (dingin) masing-masing sebanyak 4 kali
”Al Shalihat” (kebajikan) dan ”Al Sayyi’at” (keburukan) masing-masing sebanyak 167 kali
”Al Thuma’ninah” (kelapangan atau ketenangan) dan ”Al Dhiq” (kesempitan atau kekesalan) masing-masing sebanyak 13 kali
”Al Rahbah” (cemas atau takut) dan ”Al Raghbah” (harap atau ingin) masing-masing sebanyak 8 kali
”Al Kufr” (kekufuran) dan ”Al Iman” (iman) masing-masing sebanyak 17 kali dalam bentuk definite
”Kufr” (kekufuran) dan ”Iman” (iman) masing-masing sebanyak 8 kali dalam bentuk indefinite ”Al Shayf” (musim panas) dan ”Al Syita’” (musim dingin) masing-masing sebanyak 1 kali.


2. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya atau kesamaan makna yang dikandungnya:
”Al Harts” dan ”Al Zira’ah” (membajak atau bertani) masing-masing sebanyak 14 kali
”Al ’Ushb” dan ”Al Dhurur” (membanggakan diri atau angkuh) masing-masing sebanyak 27 kali
”Al Dhallun” dan ”Al Mawta” (orang sesat atau mati jiwanya) masing-masing sebanyak 17 kali ”
Al Quran ”, ”Al Wahyu”, dan ”Al Islam” (Al Quran , wahyu, dan Islam) masing-masing sebanyak 70 kali
”Al ’Aql” dan ”Al Nur” (akal dan cahaya) masing-masing sebanyak 49 kali
”Al Jahr” dan ”Al ’Alaniyah” (nyata) masing-masing sebanyak 16 kali


3. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya:
”Al Infaq” (infak) dan ”Al Ridha” (kerelaan) masing-masing sebanyak 73 kali ”Al Bukhl” (kekikiran) dan ”Al Hasarah” (penyesalan) masing-masing sebanyak 12 kali ”Al Kafiruun” (orang-orang kafir) dan ”Al Naar atau Al Ahraq” (neraka atau pembakaran) masing-masing sebanyak 154 kali ”Al Zakah” (zakat atau penyucian) dan ”Al Barakat” (kebajikan yang banyak) masing-masing sebanyak 32 kali ”Al Fahisyah” (kekejian) dengan ”Al Ghadhb” (murka) masing-masing sebanyak 26 kali

bukakartu mengatakan...

4. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya:
”Al Israf” (pemborosan) dan ”Al Sur’ah” (ketergesa-gesaan) masing-masing sebanyak 23 kali ”Al Maw’izhah” (nasihat atau petuah) dan ”Al Lisan” (lidah) masing-masing sebanyak 25 kali ”Al Asra” (tawanan) dan ”Al Harb” (perang) masing-masing sebanyak 6 kali ”Al Salam” (kedamaian) dan ”Al Thayyibat” (kebajikan) masing-masing sebanyak 60 kali


5. Berbagai keseimbangan khusus:
Kata ”Yawm” (hari) dalam bentuk tunggal, adalah sejumlah 365 kali (atau adalah sama dengan jumlah hari-hari dalam satu tahun) di dalam Al Quran .


Sedangkan kata ”hari” yang menunjuk kepada betuk plural (”Ayyam”) atau dua (”Yawmayni”), jumlah keseluruhannya dalam Al Quran adalah hanyalah 30 kali penyebutan, atau dalam hal ini adalah juga sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan dengan mengikuti kaidah Kalender Qamariyah atau penanggalan sistem Bulan, sistem Islam atau Arab.


Lalu, kata yang berarti ”Bulan” (”Syahr”) hanya terdapat 12 kali, atau sama dengan jumlah bilangan Bulan dalam satu tahun (12 Bulan) rotasi.


Ada 7 kali penjelasan tentang adanya 7 langit, yaitu antara lain dalam Al Quran Surat (Qur’an Surat) Al Baqarah ayat 29, Al Quran Surat Al Isra’ ayat 44, Al Quran Surat Al Mu’minuun ayat 86, Al Quran Surat Al Fushshilat ayat 12, Al Quran Surat At Thalaq ayat 12, Al Quran Surat Al Mulk ayat 3, Al Quran Surat Nuh ayat 15.


Selain itu, penjelasan tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam (6) hari atau masa atau tahapan, disebutkan di dalam 7 ayat pula (dan tahapan terbentuknya sebuah galaksi-planet dalam enam (6) tahapan yang memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun ini, telah pula dibuktikan oleh ilmu-pengetahuan saat ini, bahwa memanglah secara umum pembentukan Galaksi adalah dalam enam (6) tahapan, bahkan saat inipun masih terbentuk Galaksi-galaksi baru, yang masing-masing dalam (melalui) enam (6) tahapan, dalam ruang angkasa yang bahkan memuai atau meluas ini.



Sebagai catatan, angka 7 sendiri banyak sekali ditemukan di alam semesta, di Al Quran & di Hadits Nabi Muhammad bin ‘Abdullah sholollohu‘alaihi wasallam. Bahkan pengulangan dari angka ini dalam Al Quran juga memunculkan sebuah sistem yang koheren. Beberapa fenomena angka 7 tersebut adalah, antara lain:

bukakartu mengatakan...

Merupakan jumlah dari tingkatan langit & bumi (Al Quran Surat 65:12). Atom tersusun dari 7 tingkatan elektron. Jumlah hari dalam satu minggu. Jenis atau jumlah tanda (not dasar) musik. Jenis atau jumlah warna-warni pelangi. Jenis dosa besar (HR Al-Bukhori & Muslim). Tanda bagi siksaan pada Hari Kiamat. Jumlah ayat dalam Surah Al Fatihah ("Tujuh ayat yang diulang-ulang"). Muslim bersujud dengan menggunakan 7 anggota badan dalam Shalat. Muslim melakukan Thawaf sebanyak 7 kali dalam ritual Haji. Muslim melakukan Sa'i antara Shafa & Marwah sebanyak 7 kali dalam ritual Haji. Melempar jumrah sebanyak 7 kali dalam ritual Haji. Dalam kisah Nabi Yusuf (Josef) ‘alaihis salaam banyak menyebut angka 7 (Al Quran Surat 12: 46-48). Kisah siksaan kaum Nabi Hud (Hood) ‘alaihis salaam ditimpa angin topan selama 7 malam (Al Quran Surat 69:6-7). Kisah Nabi Musa (Moses) ‘alaihis salaam memilih 70 orang dari kaumnya untuk bertobat (Al Quran Surat:17;155). Kata Kiamat disebut dalam Al Quran sebanyak 70 kali. Kata "Jahannam" (Neraka) disebut dalam Al Quran sebanyak 77 kali. Jumlah pintu-pintu "Jahanam" adalah 7 (Al Quran Surat 15:44). Terdapat 7 surah yang diawali dengan kalimat tasbih.


Sebagai catatan pula, angka ”tujuh” (7) dalam budaya Arab Kuno juga dapat berarti ”banyak”, karena khazanah berpikir dan kebiasaan orang Arab lama atau kuno (misalnya, orang-orang Arab di masa-masa itu saat diturunkannya Al Quran) yang menghitung jumlah tujuh (7) atau selebihnya, sebagai angka perlambang yang menunjukkan jumlah banyak atau bahkan tak terhitung (tak dapat dihitung) lagi (oleh mereka).


Maka, sejumlah mufassir atau penafsir Al Quran dan atau atau ahli ilmu pengetahuan pun berspekulasi tentang telah disebutkannya tentang berbagai kenyataan akan adanya tak terhitung planet dan galaksi di luar bumi dalam Al Quran, dan bahkan kemungkinan adanya makhluk-makluk lain di alam semesta di luar Bumi dan sistem Solar (matahari) kita ini.


Selain ini, berkaitan dengan dunia angka dan huruf (atau kata), juga ditemui beragam distribusi Matematika di Al Quran, khususnya mengenai bilangan-bilangan prima dan beragam hubungan luasnya, dan banyak sekali misteri dan fenomena angka juga kata di Al Quran lainnya, di balik susunan, makna,dan kemungkinan-kemungkinannya dan tata bahasa Arab sendiri (dan Bahasa Sastra Arab yang digunakan di Al Quran ) yang memang sudah luar-biasa itu

TRANSFORMASI INDONESIA mengatakan...

point 1...

Apakah ada manusia yang dapat membuat SURAT semacam QURAN?

Coba anda baca kitab AHMADIYAH,SUNNI,SYIAH...dan bandingkan dengan QURAN ANDA...

Juga coba anda baca codex berikut...

1.SANA'A MANUSKRIPT..=>http://en.wikipedia.org/wiki/Sana'a_manuscript
2. TOPKAPI MANUSKRIPT..=>http://en.wikipedia.org/wiki/Topkapi_manuscript
3. SAMARKAND Codex =>http://en.wikipedia.org/wiki/Samarkand

samakah codex tersebut dengan quran sekarang?

BERARTI manusia PASTI DAPAT menuliskan QURAN yang serupa tetapi ISI berbeda dengan QURAN jenis sekarang....

Sebenarnya ayat tersebut adalah permainan kata-kata dari muhammad...jika anda termasuk orang yang berpikir...

Adakah orang yang dapat menuliskan TAURAT selain MUSA?Jika seseorang menyalin TAURAT bisa....tetapi untuk menuliskan TAURAT pasti COPYRIGHT(HAK TULIS) TAURAT adalah MUSA...jadi itu hanyalah permainan kata-kata dari MUHAMMAD saja....

TRANSFORMASI INDONESIA mengatakan...

Apakah tidak ada yang bisa membuat SURAT spt Quran?
Kasih Mulamula 7:29am May 21

COMBAT KIT KMM
(Kasihmulamula Menjawab Muslim)

MENJAWAB KLAIM MUSLIM

TIDAK ADA SATUPUN MANUSIA YANG DAPAT MEMBUAT AYAT SEPERTI QURAN

Jawab

Ah, masa sehh

Coba lihat ini

http://www.islam-watch.org/Assets/Sura-Al-Nurain.jpg

Dan silahkan pilih sura yang lebih indah dari Quran disini

http://www.suralikeit.com/

QURAN CUMA BUATAN MANUSIA DAN KARANGAN MANUSIA

Poskan Komentar